Review Film “Escape from Mogadishu

Kalau kamu dulu saksikan film Hollywood berjudul “Blood Diamond” (2006) yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan “Tears of the Sun” (2003) yang dibintangi oleh Bruce Willis, kemungkinan kamu mengira film “Escape from Mogadishu” yang ditayangkan di aplikasi streaming VIU dan Iqiyi dan ber-setting Benua Afrika sebagai satu lagi film Korea yang kebarat-baratan.

Jika “Tears of the Sun” adalah cerita fiktif dengan latar belakang perang saudara di Nigeria, maka “Blood Diamond” dan “Escape from Mogadishu” menyita setting nyata tahun 1991, sebuah masa genting ketika perang saudara berkecamuk hebat di Negara Sierra Leone dan di Negara Somalia.

 

Link alternatif untuk anda : nonton film semi

 

 

Ya, benar, film yang dibintangi oleh salah satunya Jo In Sung ini berdasarkan kisah nyata (dengan banyak plintiran) yang dialami oleh Kang Shin Sung, duta besar pertama Korea Selatan bagi Somalia pada masa Korea Selatan tengah melacak pertolongan dari negara-negara lain untuk sanggup masuk ke didalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Apa yang membawa dampak Film Barat baru seperti  “Escape from Mogadishu” ini menarik untuk disaksikan? Apa yang membuatnya tidak serupa dari kisah aslinya? Premis Cerita pada Film

Pada akhir tahun 1908-an dan awal tahun 1990-an Korea Selatan dan Korea Utara adalah dua negara berdaulat yang tengah melacak pertolongan dari negara-negara di Benua Afrika untuk sanggup masuk jadi bagian PBB. Di Somalia mereka diwakili oleh Duta Besar Han Sin Seong (Kim Yoon Seok) dan atasenya Kang Dae Jin (Jo In Sung) untuk Korea Selatan dan Duta Besar Rim Yong Su (Heo Joon Ho) dan atasenya Tae Joon Ki (Koo Kyo Hwan, yang bermain ciamik di serial “D.P: Deserter Pursuit”) untuk Korea Utara.

Situasi Somalia ketika itu tengah pelik. Ada presiden yang diangkat melalui penentuan lazim dan ada pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal Aidid. Jenderal ini tokoh nyata dan kekejamannya membawa dampak dia sempat jadi buronan pasukan perdamaian PBB. Kamu sanggup membaca ringkasan kisah hidupnya di Wikipedia.

Ketika Duta Besar Han dan Duta Besar Rim menentukan jalan lurus berdiplomasi agar Somalia memberi saran ke dua negara mereka masuk ke didalam organisasi PBB, Dae Jin dan Joon Ki bermain kotor. Joon Ki menyewa tentara pemberontak untuk merampok mobil Dae Jin yang memuat suap hadiah bagi Presiden Somalia. Hadiah lenyap, Duta Besar Han tidak mendapat peluang untuk melobi sang presiden dan memperoleh keberpihakannya pada Korea Selatan.

Di segi lain Dae Jin membayar seorang jurnalis dari Amerika Serikat untuk menyebarkan berita bohong bahwa tentara pemberontak belanja persenjataan dari Korea Utara. Presiden Somalia yang diinginkan menopang Korea Utara pasti tidak suka kecuali negara itu tambah menopang lawan politiknya.

Pertarungan akal dan kelicikan di pada ke dua atase ini mesti berakhir ketika perang saudara formal pecah dan Kota Mogadishu jadi daerah perebutan di pada tentara formal pemerintah dan tentara pemberontak. Pernah memandang atau mendengar tentang tentara anak-anak yang sangat dimobilisasi di didalam perang-perang saudara di Benua Afrika?

Film ini melukiskan mengerti kengerian yang diciptakan oleh anak-anak yang asal-asalan memegang dan menembakkan senjata kepada siapa pun yang mereka anggap lawan. Ketika perang pecah, Kedutaan Korea Selatan mulanya safe sampai supir yang dipekerjakan oleh kedutaan tergeletak di depan pintu karena ditembak oleh tentara pemerintah. Sawma, nama supir itu, ternyata adalah bagian dari tentara pemberontak.

Keberadaan Sawma membawa dampak marah tentara pemerintah yang ditugaskan di kedutaan. Mereka nyaris meninggalkan kedutaan Korea Selatan tanpa pertolongan dari tentara pemberontak, tapi menguntungkan saja Dae Jin menawarkan bayaran lebih. Di daerah lain, hubungannya dengan tentara pemberontak membawa dampak Joon Ki mengira Kedutaan Korea Utara akan terlindung dari pertikaian di pada tentara pemerintah dan tentara pemberontak.

Uang sesungguhnya tidak mengenal teman, para tentara pemberontak tambah menjarah Kedutaan Korea Utara, menyita semua persediaan uang, makanan, dan obat-obatan yang ada di sana, juga insulin untuk penyakit diabetes Duta Besar Rim.

Dalam suasana kebingungan dan tidak miliki apa-apa lagi, Duta Besar Rim memimpin rombongannya yang terdiri atas 13 orang warga negara Korea Utara, juga 4 orang anak-anak, untuk meninggalkan Kedutaan Korea Utara dan melacak pertolongan di daerah lain. Didesak oleh tentara dari ke dua belah pihak yang berperang secara terbuka, rombongan ini mendapati diri berdiri di luar pintu Kedutaan Korea Selatan.

Dae Jin tidak sudi melepaskan mereka masuk, tapi Duta Besar Han (tokoh fiktif yang terinspirasi mantan Duta Besar Kang Shin Sung) tidak sanggup melepaskan mereka mati di jalanan. Cerita sesudah itu bergulir tentang perjuangan ke dua duta besar membawa warga negara mereka masing-masing meninggalkan Mogadishu, diselingi ketegangan dan kecurigaan tak berujung di pada Dae Jin dan Joon Ki.

Korea Utara merencanakan meminta pertolongan dari Kedutaan Mesir, tapi tidak diterima karena kedutaaan mereka dipenuhi para pengungsi dan mereka juga kewalahan. Kedutaan Italia menjanjikan pertolongan bagi Korea Selatan, tapi mereka tidak sudi menopang Korea Utara karena tidak miliki interaksi diplomatik dengannya.

Duta Besar Han berbohong dan menyatakan bahwa semua orang Korea Utara telah membelot ke Korea Selatan agar pihak Kedutaan Besar Italia berpikiran rombongan mereka sebagai satu negara kawan dekat yang mesti diselamatkan. Setelah mendapat janji dari Kedutaan Besar Italia, rombongan besar ini mempersiapkan diri pergi ke kedutaan itu untuk meninggalkan Mogadishu menuju Kenya dengan pesawat pada keesokan harinya. Duta Besar Rim menyuruh mereka semua menuliskan golongan darah mereka pada lengan dan membawa dampak bendera putih sebagai sinyal perdamaian.

Perjuangan mereka tidak berjalan mudah. Di depan Kedutaan Besar Italia, mereka dihadang oleh pertempuran di pada tentara pemerintah Somalia dan tentara pemberontak. Orang Italia mengusir tentara-tentara itu dan melepaskan rombongan besar itu masuk ke daerah kedutaaan. Sayang sekali, Joon Ki tertembak ketika tetap menyetir mobil menuju ke daerah pertolongan mereka.

Ia dikubur di Kedutaan Besar Italia dan rombongan besar itu berpisah di Kenya. Mereka berpura-pura tidak saling menopang untuk terlihat dari Mogadishu agar tidak dicap pembelot oleh masing-masing negara. Yang Sebenarnya Terjadi Mantan Duta Besar Kang Shin Sung, duta besar pertama Korea Selatan untuk Somalia, menuliskan memoar pengalamannya pada tahun 1991 itu di didalam novel yang berjudul “Escape” yang diterbitkan pada tahun 2006.

Pada wawancaranya dengan sarana “The Korea Herald” pada tahun 2021, lebih dari satu selagi sehabis film “Escape from Mogadishu” ditayangkan di bioskop seantero negeri dan berhasil memperoleh 1.85 juta penonton, Kang bicara bahwa ia frustrasi dengan versi film pengalamannya melarikan diri dari Mogadishu dengan perwakilan diplomatik Korea Utara. Titik pertama perbedaan di pada novel dan film adalah bagaimana perwakilan Korea Selatan dan Korea Utara sanggup berkumpul di satu daerah di Mogadishu.

Jika film melukiskan orang-orang Korea Utara yang putus asa dan selamat karena kebaikan hati Duta Besar Han dari Korea Selatan, maka pada kejadian sesungguhnya rombongan ke dua negara ini bersua di bandara. Ketika itu orang-orang Korea Selatan mengusahakan memperoleh pesawat untuk terlihat dari Somalia, tapi ternyata pesawat yang ada adalah untuk orang-orang Italia. Di sana Duta Besar Kang bersua dengan Duta Besar Kim Ryong Su (nama sesungguhnya dari cii-ciri Duta Besar Rim Yong Su) dan rombongannya yang melarikan diri ke bandara karena kedutaan mereka telah dijarah sebanyak delapan kali.

Duta Besar Kang menawarkan pertolongan pada rombongan dari Korea Utara. Duta Besar Kim mulanya ragu, tapi sesudah itu membawa 14 orang Korea Utara juga dirinya untuk tinggal selama 4 hari di Kedutaan Besar Korea Selatan sambil melacak pertolongan dari kedutaan besar negara lain. Di situlah berjalan perbedaan kedua. Pada sesungguhnya orang-orang Korea Utara tidak melacak pertolongan ke Kedutaan Besar Mesir. Mereka menggantungan diri semuanya pada usaha Duta Besar Kang memperoleh pertolongan dari Kedutaan Besar Italia. Yang berjalan selama perwakilan dari ke dua negara yang bermusuhan ini tinggal dengan kurang lebih mirip dengan di film. Mereka memasak dan makan bersama, kendati senantiasa ada kecurigaan bahwa akan ada salah satu pihak yang meracuni makanan atau mencuri Info rahasia.

Hal yang mirip di pada buku dan film adalah bagaimana satu orang Korea Utara ditembak mati ketika mengusahakan masuk ke Kedutaan Besar Italia. Di didalam film, kisah nyata ini diwakili oleh kematian Tae Joon Ki. Namun, ada perbedaan lagi dengan bagaimana orang Kedutaan Besar Italia sudi mengijinkan rombongan itu masuk. Di didalam film, ditunjukkan bahwa rombongan itu melambai-lambaikan bendera putih. Pada kenyataannya, Duta Besar Kang dibantu oleh seorang diplomat dari Korea Utara yang bertubuh lebih tinggi untuk melambai-lambaikan Taegeukgi, sebutan untuk bendera Korea Selatan, agar diamati sebagai rekan dan bukan lawan bagi orang Italia.

Interaksi terakhir di pada Duta Besar Kang dan Duta Besar Kim adalah di Kenya. Mereka mesti berpisah jalan agar tidak diadili secara militer oleh negara masing-masing karena disangka membelot. Tiga puluh tahun sejak kejadian itu, interaksi diplomatik di pada Korea Utara dan Korea Selatan belum juga membuktikan gejala akan berjalan unifikasi di Semenanjung Korea. Moral of the Story Terus terang, tak sekedar drama-dramanya yang unggul, film dari Korea Selatan juga tidak membuktikan kekurangan kreativitas.

Cerita yang sangat lama, yang berjalan lebih dari satu dekade lalu, sanggup dikemas dengan apik dan tetap membuktikan natur interaksi di pada ke dua negara berdaulat yang sesungguhnya satu akar, satu ras, dan miliki satu bahasa. Penuh kecurigaan. Penuh jelek sangka. Penuh kegelisahan akan cap pembelot dari pemerintah negara asal. Mantan Duta Besar Kang menyayangkan banyak bagian dari film yang tidak membuktikan porsi kebesaran hati orang-orang Korea Selatan di Mogadishu ketika itu didalam menopang orang-orang Korea Utara.

“Rasa kemanusiaan adalah alasannya,” tukas mantan Duta Besar Kang. Akan tetapi, mengingat pertumbuhan interaksi diplomatik, ekonomi, dan usaha di pada Korea Utara dan Korea Selatan didalam 10 tahun terakhir, kesan “superioritas” Korea Selatan yang diceritakan mantan Duta Besar Kang di didalam novelnya sepertinya tidak pas kecuali ditonjolkan. Saya jadi mengerti ketentuan produser dan sutradara untuk membuatnya implisit dengan scene rombongan Korea Utara yang meminta pertolongan di depan Kedutaan Korea Selatan.

Seharusnya itu telah lumayan mengerti untuk membuktikan pihak Korea Selatan sebagai pengambil inisiatif. Akhir kata, perang sesungguhnya tidak menimbulkan faedah apa-apa. Percaya atau tidak, perang saudara di Somalia tetap tetap berkecamuk sampai sekarang didalam berbagai bentuk. PBB telah dulu mengintervensi pada tahun 1992 -1995, dan memberlakukan embargo senjata pada tahun 2014. Akan tetapi, pada sesungguhnya perang itu tetap berlangsung, di pada pemerintah yang formal terpilih dan pihak oposisi. Selalu seperti itu.

Ketika semua dunia menjalin kerja mirip world untuk capai kemakmuran bersama, tetap ada negara-negara yang berebut kekuasaan dan saling membunuh saudara sebangsanya sendiri entah untuk apa. Bersyukurlah kita karena tetap tinggal, bernapas, dan beraktivitas di negara yang berdaulat, aman, dan merdeka. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa senantiasa memelihara negara kita dari perpecahan. Film “Escape from Mogadishu” sanggup disaksikan di VIU dan Iqiyi. Film ini cocok sekali untuk menemani selagi bersantaimu pada liburan mendatang. Oh iya, adegan kekerasan di dalamnya memerlukan pertimbanganmu selagi menonton, ya.