Hal Lain yang Harus Dilakukan Selain Aqiqah

Ada beberapa hal yang disyariatkan di hari awal kelahiran anak:

[1]. Jangan bersedih karena mendapatkan anak wanita.

Antara rutinitas warga musyrikin jahiliyah ialah berduka dan geram saat mendapatkan anak wanita. Allah mencemooh mereka lewat firman-Nya,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُ مْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

“Jika seorang pada mereka (musyrikin jahiliyah) dikasih berita dengan (kelahiran)anak wanita, hitamlah mukanya dan ia benar-benar geram.”

[2]. Mengucapkan syukur atas nikmat Allah

Anak termasuk nikmat Allah. Allah berfirman, yang maknanya: “Harta dan anak ialah berhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al Kahfi: 46). Oleh sebab itu, apa saja kondisinya harus disyukuri. Allah sudah janji akan menambah enaknya. Allah berfirman, yang maknanya, “Bila kamu mengucapkan syukur karena itu benar-benar kami akan menambah nikmat untuk kamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Bertambahnya nikmat ini berbagai macam. Memiliki bentuk dapat berbentuk ketaatan anak ke orang tua, dedikasi anak, keberkahan untuk keluarga, dan nikmat yang lain.

[3]. Adzan di Telinga Bayi

Terdapat sebuah hadits dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhu, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan dalam telinga kanan Hasan bin Ali pada hari saat ia dilahirkan, dan iqamah dalam telinga kanannya. (HR. Al Baihaqi). Tetapi, hadits ini ialah hadits yang kurang kuat, karenanya jangan jadi alasan.

Ringkasannya, tidak disyariatkan mengumandangkan adzan dalam telinga bayi saat baru dilahirkan.

[4]. Tahnik

Tahnik ialah menyuapi bayi dengan kurma yang telah dihaluskan.Disarankan untuk mentahnik bayi pada hari kelahirannya, dalilnya: Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu, beliau menjelaskan, “Saat anakku lahir, saya mengantarnya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi memberikan nama bayiku Ibrahim dan men-tahnik dengan kurma lalu doakannya dengan keberkahan. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Thalhah radliallahu ‘anhu, saat anaknya lahir, Anas bin Malik mengantarnya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bawa beberapa kurma. Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kunyah kurma itu dan menempatkannya di mulut bayi (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Beberapa adat saat men-tahnik bayi:

A. HENDAKNYA MENGGUNAKAN KURMA. JIKA TIDAK ADA BISA MENGGUNAKAN MADU.

B. KURMA DIKUNYAH KEMUDIAN DILETAKKAN DI LANGIT-LANGIT MULUT BAYI.

C. YANG MEN-TAHNIK ADALAH ORANG YANG SHALIH DI KAMPUNGNYA.

D. ORANG YANG MEN-TAHNIK BAYI, HENDAKNYA MENDOAKAN KEBERKAHAN UNTUK BAYI

[5]. Memberi ucapan selamat ke orangtua bayi

Disarankan untuk famili dekat, keluarga, tetangga untuk mengucapkan selamat ke orangtua bayi. Karena Allah mengucapkan selamat ke beberapa nabi yang memperoleh anak.Allah berfirman, yang maknanya: “Hai Zakaria, sebenarnya Kami memberikan berita bahagia padamu akan (mendapatkan) seorang anak yang bernama Yahya..” (QS. Maryam: 7).

Antara yang diajarkan ialah:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الـمَوهُوبِ لَكَ , وَ شَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَ بَلَغَ أَشُدَّهُ , وَ رُزِقْتَ بِرَّهُ

“Mudah-mudahan Allah memberkahi anak yang diberi padamu, mudah-mudahan kamu dapat mensyukuri Dzat Yang Memberikan, ia dapat sampai dewasa, dan kamu memperoleh ketaatan anakmu.” (Hisnul Muslim).

[6]. Memendamkan ari-ari

Tidak ada tata langkah khusus saat memendamkan ari-ari. Karena semua rutinitas warga saat memendamkan ari-ari, semua datang dari tradisi jawa. Arah ari-ari dipendam, supaya tidak mengusik seseorang.

[7]. Memberikan nama

Diperbolehkan memberikan nama bayi pada hari lahir, dan baru dipublikasikan saat aqiqah. Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu, dia menjelaskan, “Saat anakku lahir, saya mengantarnya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi memberikan nama bayiku: Ibrahim dan men-tahnik dengan kurma, dan mendo’akannya dengan keberkahan. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Di Hari Ke-7

Beberapa ibadah yang disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ke-7 sesudah kelahiran:
[a]. Cukur rambut bayi dan bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut.

Dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, jika saat aqiqahnya Hasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah Fatimah: “Hai Fatimah, pangkas rambutnya dan sedekahlah dengan perak seberat rambutnya ke orang miskin.” (HR. Ahmad, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani).

Dari Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Yakni disembelihkan (kambing) buatnya pada hari ke-7 , dicukur rambutnya, dan dinamakan.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani).

Disarankan untuk menggundul rambut bayi -sebisa mungkin- pada hari ke-7 sesudah kelahiran

Yang cukur ialah orangtua bayi, Ibunya atau bapaknya. Dan tidak disyariatkan cukur bayi bersama-sama saat perayaan aqiqah.

Rambut yang telah dicukur ditimbang (bisa diperkirakan bila rambutnya terlampau sedikit) Bersedekah dengan uang dengan harga perak yang beratnya sama dengan rambut bayi, diberikan ke fakir miskin.

[b]. Memberikan nama bayi dan mengumumkan

Dari Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Yakni disembelihkan (kambing) buatnya pada hari ke-7 , dicukur rambutnya, dan dinamakan.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi, An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani).

Untuk yang belum memberikan nama bayi di hari awal, karena itu sebaiknya memberikan nama bayi pada hari ke-7 bersama dengan aqiqahnya. Bisa memberikan nama sesudah hari ke-7 . Tetapi seharusnya TIDAK tunda sesudah aqiqah.

[c]. Aqiqah

Aqiqah untuk bayi hukumnya harus untuk yang sanggup. Bahkan juga Imam Ahmad menyarankan untuk berhutang untuk yang kurang sanggup. Imam Ahmad menjelaskan, “Allah akan menolong membayarnya karena ia sudah melestarikan sunnah.”

Antara alasan jika aqiqah itu penting untuk yang sanggup ialah hadis dari Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya…” (HR. Abu Daud, At Turmudzi, An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani).

Arti hadis:
Ada dua keterangan ulama mengenai arti hadis:

syafa’at yang diberi anak ke orangtua tergadaikan dengan aqiqahnya. Maknanya, bila anak itu wafat saat sebelum baligh dan belum diaqiqahi karena itu orangtua tidak memperoleh syafaat anaknya pada hari kiamat. Ini ialah info dari Imam Ahmad.

  1.  keselamatan anak dari tiap bahaya itu tergadaikan dengan aqiqahnya. Bila dikasih aqiqah karena itu diharap anak akan memperoleh keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Atau orangtua tidak dapat secera prima memperoleh kepuasan dari kehadiran anaknya. Info Mula Ali Qori (ulama madzhab hanafi).
  2. Allah menjadikan aqiqah untuk bayi sebagai fasilitas untuk melepaskan bayi dari kekangan setan. Karena tiap bayi yang lahir akan dituruti setan dan dirintangi untuk lakukan usaha kebaikan untuk akhirat. Dengan aqiqah akan melepaskan bayi dari kekangan setan dan bala tentaranya.