Berita Covid Terkini: Ketahui Kondisi Orang yang Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19

Mengenal Festival Vaksin di Makassar, Diawali Apel 1.000 Nakes hingga Warga  Dijemput Ojol Halaman all - Kompas.com

Berita terkini kali ini datang mengenai perubahan mengenai kondisi orang yang tidak bisa vaksin. Sejak Rabu, 17 Februari 2020, vaksinasi Covid-19 di Indonesia tahap 2 sudah dimulai dilakukan untuk pekerja publik dan juga bagi masyarakat lanjut usia di atas usia 60 tahun. Menurut rencananya, pada Mei 2020 sebanyak 38.513.446 orang diharapkan selasai divaksin. Surat Keputusan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 Tentang Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19 yang menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi tertentu yang membuat vaksinasi tidak bisa dilakukan kepada seseorang.

Siti Nadia Tarmizi, selaku Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 menyebutkan bahwa ada perubahan mengenai kondisi orang yang tidak bisa divaksin Covid-19 atau skrining baru. Ia pun mengatakan bahwa salah satu yang berubah adalah mengenai batas maksimal pengukuran tekanan darah yang awalnya dari 140/90 kini naik menjadi 180/110. Lalu seperti apakah kondisi orang yang tidak bisa menerima vaksin Covid-19? Berikut ini ulasannya.

  1. Orang dengan tekanan darah 180/110 atau lebih
  2. Penyintas Covid-19 kurang dari 3 bulan
  3. Sedang hamil
  4. Mengidap gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), seperti batuk atau pilek atau sesak napas dalam 7 hari terakhir
  5. Terdapat anggota keluarga yang kontak erat atau suspek atau terkonfirmasi yang sedang dalam perawatan karena Covid-19
  6. Mempunyai riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak, dan kemerahan setelah sebelumnya divaksinasi Covid-19 (untuk vaksinasi kedua)
  7. Orang dengan penyakit kelainan darah yang sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang
  8. Mengidap penyakit Autoimun Sistemik (SLE atau Lupus, Sjogren, vaskulitis) akut
  9. Mengidap penyakit Reumatik Autoimun atau Rhematoid Arthritis akut
  10. Mengidap penyakit saluran pencernaan yang kronis
  11. Mengidap penyakit hiperteroid atau hiperteroid karena autoimun
  12. Mengidap HIV dengan angka CD4 kurang dari 200 atau tidak diketahui

Selain itu, ada pula dua kondisi lain yang mengharuskan pemberian vaksin kepada seseorang ditunda. Kondisi itu adalah:

  1. Jika berdasarkan pengukuran suhu tubuh pada calon penerima vaksin sedang mengalami demam 37,5 derajat celcius ke atas. Penundaannya dilakukan sampai pasien sembuh dan terbukti bukan menderita Covid-19, serta dilakukan skrining ulang pada saat kunjungan vaksinasi berikutnya.
  2. Jika memiliki salah satu penyakit paru seperti asma, PPOK, dan TBC. Jika memiliki kondisi-kondisi tersebut, maka vaksinasi baru bisa diberikan hingga kondisi pasien terkontrol baik.

Adapun mekanisme vaksinasi sendiri ada empat, yang dilakukan bagi petugas dan pelayanan publik.

  1. Vaksinasi dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan
  2. Vaksinator datang ke tempat petugas publik bekerja atau kantor
  3. Vaksinator datang ke tempat ramai seperti pasar
  4. Membuat sebuah tempat vaksinasi massal dan calon penerima vaksin datang ke tempat tersebut.

Budi Gunadi Sadikin, selaku Menteri Kesehatan berujar bahwa keempat model tersebut akan diatur tergantung jenis pekerjaannya dan bagaimana petugas publik tersebut menghadapi masyarakat dalam pekerjaan sehari-hari. Vaksinasi tahap kedua mulai dilaksanakan pada 17 Februari 2021 yang adalah vaksinasi massal terhadap pedagang di Pasar Tanah Abang. Vaksinasi ini dilakukan dua gelombang, dimana gelombang pertama dilakukan kepada total 9.729 orang pada 17-21 Februari 2021 di Blok A, B, F, G. Sementara itu gelombang kedua dilakukan pada 22-24 Februari 2021 kepada total 2.267 orang di lima titik di sekitar Pasar Tanah Abang.

Menteri Kesehatan juga mengatakan bahwa vaksinasi yang dilakukan di Pasar Tanah Abang adalah proyek percontohan atau pilot project, seperti pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan di Jakarta beberapa pekan lalu bagi sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Istora Senayan.